Pages

Senin, 20 Januari 2014

7 Alasan Karyawan Tak Percaya Pada Atasannya

Saat ini, banyak orang merasa kesulitan untuk saling mempercayai satu sama lain. Tak hanya pada hubungan pribadi, kondisi tersebut juga menimpa hubungan atasan dan bawahan di kantor.

Rendahnya tingkat kepercayaan karyawan pada atasan dapat berdampak pada ketegangan hubungan kerja di kantor. Kondisi tersebut dapat berpengaruh negatif pada produktivitas kerja di kantor.
Sayangnya, saat ini sebagian karyawan merasa sulit mempercayai atasannya. 

Berikut tujuh alasan yang membuat karyawan ragu pada Atasannya :
1. Atasan yang tak punya gaya kepemimpinan sendiri
Para pemimpin yang mudah ragu dengan keputusannya sendiri sangat sulit untuk dihormati dan dipercaya. Kebanyakan para atasan saat ini membuang banyak waktunya untuk meniru gaya kepemimpinan atasan lain daripada membentuk indentitas sendiri.
Mungkin, banyak pemimpin yang tak tahu bahwa karyawannya memperhatikan sikapnya di kantor. Para pegawai selalu tahu apa yang dilakukan atasan/bosnya dan bagaimana dia mengatur sikapnya sendiri.
Saat para atasan tak berhasil mendorong potensinya sendiri, maka sulit bagi para karyawan untuk mempercayai penilaiannya, kepercayaan diri, kewaspadaan dan kapablitasnya secara keseluruhan. 
2. Tak menginformasikan agenda kerja
Pemimpin yang terlalu politis dan berbelit-belit dapat dipandang sebagai atasan yang picik dan tidak kredibel. Sedangkan para karyawan berharap memiliki pemimpin yang tidak banyak basa-basi dan langsung bertindak mencapai tujuan.
Artinya, para pegawai tidak akan percaya pada atasan yang tidak menginformasikan agenda kerja guna mencapai tujuan tim di kantor. Kadang para atasan ingin menonjolkan dirinya sendiri dan mengabaikan kepentingan tim kerja. Dalam kondisi itu, kepercayaan pegawai akan hilang dengan cepat dan sulit kembali.
3. Mengambil keputusan sepihak
Saat atasan hanya mementingkan dirinya sendiri dan kurang berkomitmen pada kemampuan karyawan, siap-siap saja untuk kehilangan kepercayaan dari para pegawai. Sementara atasan yang baik akan senantiasa menuntun bawahannya untuk tumbuh dan berkembang lebih baik.
Jika para atasan hanya mementingkan reputasinya sendiri maka sulit bagi karyawan untuk mempercayainya. Saat para atasan meragukan kemampuan kerja bawahannya, dan mengambil keputusan sendiri, keegoisannya melunturkan kepercayaan para karyawan.
4. Reputasinya rendah
Hati-hati, terlalu banyak obrolan tak sedap tentang seorang atasan dapat berpengaruh buruk pada reputasinya. Setiap atasan harus waspada dengan penilaian yang diberikan secara implisit oleh karyawan. Saat reputasi atasan luntur, para karyawan akan semakin tidak mempercayai kemampuan kerjanya.
5. Tidak konsisten
Orang-orang akan sulit mempercayai atasan yang bersikap tidak konsisten atau plin plan. Sementara atasan yang bisa dipercaya adalah mereka yang konsisten dan punya kejelasan maksud dari setiap tindakannya. Sementara para atasan yang tidak konsisten akan dengan cepat diabaikan para pegawainya.
6. Tak mau terlibat langsung dengan pekerjaan
Para atasan harus mau bersentuhan langsung dengan pekerjaannya. Saat para atasan hanya menyuruh orang lain untuk mengerjakan berbagai hal, para karyawan akan mulai mempertanyakan apakah atasannya tahu cara bekerja atau tidak. Maka para atasan harus mulai menggali sendiri kepercayaan para pegawainya dan tidak menganggap bahwa kepercayaan itu datang secara tiba-tiba.
7. Kurang mengapresiasi pekerjaan bawahannya
Saat para atasan tak benar-benar memikirkan karyawannya, maka kemampuannya akan tampak meragukan. Saat atasan tak mengapresiasi kinerja Anda di kantor dan selalu menekan berbagai upaya yang telah dilakukan, Anda bisa kehilangan kepercayaan pada dirinya

Senin, 06 Januari 2014

Selamat Datang BPJS


Sejak tanggal 1 Januari 2014 kemarin, BPJS Kesehatan telah resmi berdiri. Badan inilah yang nantinya akan melayani jaminan kesehatan bagi seluruh rakyat. Kantor PT. Askes (Persero), berubah menjadi Kantor BPJS Kesehatan.
 
Peserta jaminan kesehatan yang dikelola BPJS Kesehatan terbagi dalam 4 (empat) kategori. 

  • Pertama adalah Penerima bantuan iuran (PBI). Masuk dalam kategori ini adalah orang miskin yang iurannya dibayarkan oleh Negara sebesar Rp. 19.225 per bulan, dengan fasilitas rawat inap kelas 3.
  • Kedua adalah PNS/TNI/Polri/Pensiun kategori peserta. Besarnya iurannya adalah 5% per keluarga (2% dari pekerja dan 3% dari pemberi kerja), dengan fasilitas rawat inap kelas 1 dan kelas 2. 
  • Ketiga adalah penerima upah selain PNS dan lain-lain. Hingga 30 Juni 2015 besarnya iuran adalah 0,5% dari pekerja dan 4% dari pemberi kerja dan seterusnya mulai 1 Juli 2015 besarnya iuran adalah 1% dari pekerja dan 4% dari pemberi kerja, dengan fasilitas rawat inap kelas 1 dan kelas 2. 
  • Keempat adalah pekerja bukan penerima upah dan bukan bukan pekerja iurannya terbagi menjadi 3 (tiga): Rp. 25.500 (Rawat inap kelas 3), Rp. 42.500 (Rawat inap kelas 2), dan Rp. 59.500 (Rawat inap kelas 1).

Seluruh peserta JPK yang dikelola PT. Jamsostek, beralih menjadi peserta BPJS Kesehatan.
Prinsipnya, BPJS Kesehatan ini berlaku untuk seluruh rakyat dan semua penyakit. Semangatnya adalah gotong royong. Mereka yang kaya membantu yang miskin, yang sehat membantu yang sakit.
Sebagai sebuah system yang baru saja berjalan, masih banyak hal yang harus dibenahi. 
Meskipun masih ada kekurangan disana-sini, ada satu hal yang tak bisa dipungkiri, keberadaan BPJS Kesehatan ini memberikan harapan besar bagi bangsa Indonesia. Ia tidak saja menjadi symbol hadirnya Negara dalam kepentingan rakyat, tetapi juga menandai era baru dibidang jaminan sosial.
“Jaminan sosial adalah modal dasar bagi sebuah Negara dalam pembangunan,” begitu seorang pakar pernah berkomentar.
Tanpa bermaksud menyombongkan diri, saya kira harus kembali ditegaskan disini, bahwa BPJS Kesehatan adalah kado kaum buruh untuk seluruh rakyat Indonesia. Ini penting untuk diingatkan. Sebelumnya, pemerintah bahkan enggan menjalankannya. Hingga akhirnya kita mengajukan Gugatan Warga Negara, mendesak Pemerintah dan DPR segera merealisasikan hak rakyat untuk mendapatkan jaminan kesehatan.
Tanpa gerakan yang masif dari element buruh, khususnya KAJS, jaminan kesehatan nasional hanya menjadi mimpi.
Perubahan itu hanya bisa diwujudkan ketika ada element masyarakat yang bergerak. Bukan sekelompok orang yang bergerak. Dalam hal ini, buruh sudah membuktikannya.
Tak berhenti sampai disini. Pertengahan tahun 2015 nanti, buruh formal pun berhak mendapatkan jaminan pension, yang akan dikelola oleh BPJS Ketenagakerjaan.
“Apakah uang JHT kita akan hilang?” Pertanyaan ini sering kita dengar.
Jawabannya, tentu saja uang JHT kita tidak akan hilang. BPJS Ketenagakerjaan hanyalah transformasi dari PT. Jamsostek. Meskipun ia baru, tetapi substansinya adalah melanjutkan (dengan berbaikan) apa yang sudah ada. Bukan menghilangkannya.
Tentu saja, BPJS Kesehatan tidak boleh alergi terhadap kritik dan saran. Secara simultan ia harus terus menerus diperbaiki. Hingga saatnya nanti bisa memberikan pelayanan kesehatan yang benar-benar gratis dan berkualitas bagi seluruh warga Negara.
Sekretaris Jenderal Komite Aksi Jaminan Sosial (KAJS) Said Iqbal pun menegaskan, tahun 2014 ini isu jaminan sosial masih akan menjadi isu prioritas bagi buruh. Ini bukanlah sesuatu yang sudah selesai. Oleh karenanya, harus selalu diperbaiki. (Kascey)