Pages

Senin, 25 November 2013

Balada Seorang Pekerja

Posted by Kahar S Cahyono
… Kalau k elak anak -anak bertanya mengapa dan ak u jarang pulang. Katak an.
Ayahmu tak ingin jadi pahlawan. Tapi dipak sa menjadi penjahat oleh
penguasa yang sewenang-wenang.
Kalau merek a bertanya, ”apa yang dicari?” Jawab dan k atak an, dia pergi untuk
merampok hak nya yang dirampas dan dicuri. (Wiji Thuk ul)
Nak, hari ini untuk yang kesekian kalinya bapakmu ini pulang hingga larut
malam. Engkau sudah lelap ketika bapak datang. Lampu ruang tamu sudah
dimatikan oleh ibumu.
Bapak mencium pipimu, dan dirimu tak bergeming. Entah apa yang sedang kau
impikan saat ini. Barangkali tentang robot dan mobil-mobilan, yang dirimu minta
beberapa hari lalu dan hingga saat ini belum sempat bapak belikan. Engkau
menangis, meraung-raung, hampir saban hari, menagih janji bapakmu ini kapan
akan merealisasikan janji. Bukannya bapak tak sayang padamu, Nak. Tetapi
memang tak ada uang untuk membelikan mainan itu.
“Bapak mau kemana?” Tanyamu tadi pagi sebelum berangkat.
“Bapak mau demo ke Istana Negara. Meminta Presiden SBY menaikkan upah buruh 50 persen,” jawab bapak.
“Kalau upah naik bisa beli mobil-mobilan, ya, Pak?”
“Iya, kalau gaji naik buat beliin adik mobil-mobilan.” Suaraku tergetar.
“Bapak bohong. Tiap berangkat demo bilangnya agar upah naik. Tapi kenyataannya tak pernah membawa uang
setiap kali pulang.”
Aku terdiam. Kalimat anakku menjadi tamparan keras. Membuatku limbung dan tak mampu berkata apa-apa. Dia tak
salah, memang. Karena seperti itulah kenyataan yang sebenarnya. “Bapakmu tak pernah dirumah. Pasti tiap gajian
uangnya sekarung,” pernah ia mengadu. Ada tetangga yang berkata demikian.
Nak, kelak engkau akan mengerti apa yang bapakmu ini perbuat. Bapak ikut demo bukan karena dibayar. Tidak
untuk mendapatkan uang. Bahkan harus urunan untuk membayar bus. Sering ditempat aksi tidak makan, karena
hanya membawa uang pas-pasan. Terkadang bahkan memakai uang belanja ibumu, agar bapak bisa ikut berjuang.
Bapak ingin memastikan, engkau tak lagi mewarisi situasi ini. Dimana pengusaha membayar buruh-buruhnya dengan
harga yang sangat murah. Jangan hiraukan mereka, Nak.
Kuceritakan kepadamu tentang ini. Mungkin bukan saat ini engkau akan mengerti. Barangkali sepuluh atau dua
puluh tahun lagi. Tetapi ingatlah baik-baik, apa yang bapak katakan hari ini.
Pernah ada yang mengejek bapak, juga teman-teman bapak, ketika kami memperjuangkan agar kenaikan upah di
tahun 2013 kemarin melebihi angka 2 juta. Mereka bilang, tidak mungkin upah buruh lebih dari 2 juta. Mimpi.
Dan ketika upah tembus 2,2 juta, tidak ada tuh yang bilang: Hei serik at buruh. Upah saya cuk up 1,7 juta saja.
Sisanya buat Anda…
Mereka selalu begitu, Nak.
Sedari dulu.
Satu contoh lagi, misalnya, ketika kami berjuang agar 1 Mei menjadi hari libur nasional. Mereka juga mencibir. Dan
ketika saat ini 1 Mei sudah ditetapkan sebagai hari libur, dengan tak tahu malu mereka ikut-ikutan
‘merayakannya’. Justru olok -olok mereka semakin membuat kami bersemangat untuk membuktikannya. Mereka
lupa, bisa bekerja 8 jam sehari atau 40 jam seminggu, adalah juga kerena perjuangan serikat pekerja.
Jadi jangan lagi bertanya, apakah Bapak membawa uang atau tidak malam ini. Karena bapak pergi
untuk merampok haknya yang dirampas dan dicuri. (*)

2 komentar:

Multitali mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Multitali mengatakan...

hidup bapak itu