Ketika teman saya sedang melewati gajah, ia tiba-tiba berhenti, bingung dengan mahluk-mahluk besar yang diikat tali kecil pada kaki belakang mereka yang besar. Gajah tidak dirantai dan juga tidak dikandang, sudah pasti mereka bisa melepaskan diri dari tali kecil yang mengikat kaki mereka.
Dengan keheran-heranan teman saya bertanya pada pelatih si gajah, kenapa gajah itu tidak mau melepaskan diri padahal sesuatu yang mudah buat gajah itu melakukannya.
"Yah", kata pelatih gajah, "ketika gajah-gajah itu jauh masih muda dan masih kecil, kami mengikat gajah itu dengan tali yang pada usianya saat itu, tali kecil itu cukup untuk menahan gajah tersebut. Waktu gajah-gajah itu tumbuh, gajah-gajah itu dikondisikan untuk percaya bahwa mereka tidak bisa melepaskan diri dari ikatan tersebut".
Gajah percaya bahwa tali kecil itu masih bisa menahan mereka, sehingga gajah-gajah tersebut tidak mau mencoba melepaskan diri. Teman saya bergumam dalam hati, alangkah besar pelajaran yang ia dapatkan. Gajah adalah hewan mamalia terbesar didarat yang mempunyai ingatan yang kuat dibanding hewan lain, dan ia terjebak didalam alam ingatan mereka. Tetapi itu akan menjadi sesuatu hal yang wajar, sebab apa? Mereka adalah hewan, yang hanya mempunyai ingatan dan intuisi (intuisi= daya atau kemampuan mengetahui atau mema-hami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari; bisikan hati; gerak hati). Berbeda dengan manusia, yang mana mahluk paling tinggi derajatnya, seharusnya manusia tidak terpedaya oleh memory atau ingatan yang bersifat menakutkannya di waktu kecil/muda, sehingga menguasai fikirannnya. Jadi kita seharusnya mampu melepaskan diri dari ikatan-ikatan kecil untuk bisa berbuat lebih, bukan hanya untuk diri kita atau kalangan sesama kita bahkan harus bisa berbuat untuk anak-cucu atau generasi sesudah kita. Sebaik-baik manusia adalah manusia yang memberi manfaat kepada manusia lain.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar